Syeikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi

Bapak Kitab Kuning Indonesia.

Koruptor Masuk Surga

Bahkan Koruptor Pun Bisa Masuk Surga.

Indahnya Kebersamaan

Hargailah Waktu Bersama Orang-Orang Tersayang.

Penerimaan Santri Hubulo Tahun Pelajaran 2016/2017

Pendaftaran Santri Baru Pesantren Hubulo dibuka mulai tanggal 1 Maret hingga 22 Mei 2016.

Senandung Seribu Menara

Salah Satu Keindahan Mesir Sebagai Negeri Seribu Satu Menara Adalah Seruan Adzan Yang Sangat Merdu Serta Saling Bersahutan.

Showing posts with label CATATAN. Show all posts
Showing posts with label CATATAN. Show all posts

Monday, April 13, 2020

Antara Rukhsah dan Azimah

(Membaca kembali diktat kuliah Ushul Fikih, karya Prof. Dr. Abdul Hayy Abdul 'Aal, guru besar Ushul Fikih Univ. Al-Azhar)
Sengaja saya mencari kembali materi tentang rukhshah dan azimah karena dahulu materi ini sangat berkesan di hati saya, apalagi dalam keadaan sekarang ini memerlukan perhatian lebih tentang manakah yang lebih utama, mengambil rukhshah atau bersikukuh dengan mengamalkan azimah dalam masa pandemi Corona ini.
Pada halaman 147, dibahas tentang masalah manakah yang lebih baik bagi seseorang yang sakit atau dalam perjalanan di siang hari Ramadhan, yang merasa kesulitan jika tetap berpuasa, Apakah ia tetap berpuasa (mengamalkan azimah) atau memilih berbuka (mengambil rukhshah)?
Madzhab Hanafi menyatakan bahwa dalam masalah ini, melaksanakan azimah itu lebih utama. Sedangkan di dalam madzhab Syafi'i, ada dua pendapat. Pendapat pertama (yang kuat) menyatakan bahwa mengamalkan rukhshah lebih utama. Sedang pendapat kedua menyatakan bahwa mengamalkan azimah yang lebih utama. Ini masalah khilafiyah, dan dibutuhkan kedewasaan untuk saling menghargai.
Namun, saya sangat tertarik dengan perkataan beliau-mengutip pendapat imam Sarakhsi-:

قيل: العمل بالعزيمة أفضل، إلا إذا خاف الهلاك على نفسه فإنه يلزمه الفطر، لأنه لو صبر وصام حتى هلك صار قاتلا لنفسه فيموت آثما
Artinya:
Dikatakan: bahwa mengamalkan azimah itu yang utama, kecuali jika takut akan binasa (mati). Maka jika demikian, maka ia harus berbuka puasa karena jika ia memilih bersabar dan tetap berpuasa hingga kemudian ia mati, maka ia telah membunuh dirinya sendiri, dan ia mati dalam keadaan berdosa.

Dari sini dapat dipahami beberapa hal. Pertama, pendapat di dalam madzhab syafi'i yang menyatakan bahwa melaksanakan azimah itu lebih utama, hanya dibatasi pada keadaan di mana pelakunya dipastikan keamanan jiwanya. Namun jika ditakutkan ia binasa (apalagi jika dokter sudah mengatakan bahwa jika ia berpuasa, maka 99% akan meninggal), maka memilih rukhshah adalah yang utama.
Kedua, ternyata tak selamanya ibadah itu berimplikasi pada pahala. Justru sebaliknya, bisa saja pelakunya mendapatkan dosa. Makanya, imam Sarakhsi menyatakan bahwa orang yang tetap ngeyel dan ngotot beribadah puasa padahal kondisi fisiknya tidak memungkinkan, sehingga ia mati karenanya, maka sama saja ia telah bunuh diri dan ia mati dalam keadaan berdosa (catat: mati dalam keadaan berdosa, bukan berpahala). Anda bisa bayangkan bagaimana jika ibadah itu ternyata tidak hanya membahayakan anda sendiri, tetapi juga membahayakan orang lain. Betapa banyak dosa yang anda harus tanggung.
Lantas, bagaimana dengan kasus orang yang tetap ngeyel beribadah secara berjama'ah dalam masa wabah Corona ini?
Anda sudah mengetahui bagaimana anjuran dokter tentang masalah perkumpulan di masa wabah Corona
Anda sudah mengetahui bahaya yang ditimbulkan oleh Corona bagi anda dan orang -orang terdekat anda
Anda sudah mengetahui bagaimana himbauan MUI, NU, atau Muhammadiyah dalam masalah beribadah selama wabah Corona
Silahkan anda analogikan apa yang saya paparkan dengan masalah ini

فليقس ما لم يقل

Gorontalo, 10 April 2020
(Repost dari status di Facebook)


Sunday, April 5, 2020

Menjadi Pribadi yang Bermanfaat


Manusia tak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, sekaya apapun orang tersebut. Setiap orang pasti membutuhkan bantuan orang lain. Dan setiap orang memiliki kelemahan dan keterbatasan. Di sinilah pentingnya kita memberi manfaat kepada orang lain. Setiap orang dapat memberi manfaat sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang ia miliki. Seorang guru dapat memberi manfaat dengan ilmu yang ia miliki. Seorang petani dapat memberi manfaat dengan hasil panen yang ia dapatkan.
Besar ataupun kecilnya manfaat yang kita berikan, bukanlah menjadi hal yang utama. Yang paling utama adalah niat ikhlas untuk memberi manfaat kepada orang. Keikhlasan ini yang akan menjadikan amalan yang terlihat kecil dan remeh di mata manusia, menjadi bernilai tinggi di hadapan Allah swt. Sebagai contoh, sering kali orang meremehkan peranan guru ngaji di kampung-kampung. Ya, orang-orang yang ikhlas untuk mengajarkan kepada anak-anak kita bagaimana cara membaca al-Quran, tanpa meminta imbalan sepeserpun. Bukannya mereka tak butuh akan uang, tetapi mereka segan untuk meminta hal itu, meski sebenarnya mereka berhak untuk mendapatkannya. Mungkin, jika bisa digambarkan, mereka ini seperti para sahabat nabi saw., yang digambarkan di dalam al-Qur’an dengan:
...يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمَاهُمْ لَا يَسْأَلُوْنَ النَّاسَ إِلْحَافًا...(البقرة: 273)
“...orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak...”.
Banyak orang yang meremehkan peranan mereka di masyarakat, padahal mereka memiliki peranan dan posisi penting dalam keilmuan Islam. Untuk mendalami ilmu keagamaan-langsung dari sumbernya-, seseorang harus menguasai bahasa Arab. Dan untuk menguasai bahasa Arab-beserta perangkat gramatika bahasa dan sasteranya-seseorang harus menguasai terlebih dahulu tulisan Arab. Dan penguasaan itu bisa diperoleh melalui-salah satunya-dengan belajar membaca al-Qur’an, karena dengan bahasa Arablah al-Qur’an diturunkan.
***
Rasulullah saw., bersabda:
خَصْلَتَانِ لَا شَيْءَ أَفْضَلُ مِنْهُمَا: اَلْإِيْمَانُ بِاللهِ وَالنَّفْعُ بِالْمُسْلِمِيْنَ. وَخَصْلَتَانِ لَا شَيْءَ أَخْبَثُ مِنْهُمَا: اَلشِّرْكُ بِاللهِ وَالضُرُّ بِالْمُسْلِمِيْنَ.
“dua perkara yang tidak ada sesuatupun lebih baik dari keduanya, (yaitu) beriman kepada Allah swt., dan memberi manfaat kepada kaum muslim. Dan dua perkara yang tidak ada sesuatupun yang lebih kotor dari keduanya, (yaitu) menyekutukan Alla swt., dan membahayakan kaum muslim”.
Syaikh Nawawi al-Bantani di dalam kitab Nashaihul ‘Ibad menjelaskan bahwa memberi manfaat kepada kaum muslim dapat dilakukan dengan perkataan, jabatan, harta, atau anggota badan.[i] Segala hal yang memiliki potensi untuk mendatangkan manfaat bagi diri dan orang banyak, harus dijadikan peluang untuk berbuat kebajikan. Yang menarik dari hadis di atas adalah bagaimana Rasulullah saw., menyandingkan kalimat “memberi manfaat kepada kaum muslim” dengan “beriman kepada Allah swt.”. Ini menunjukkan bagaimana tingginya posisi “memberi manfaat” di dalam ajaran Islam. Syaikh Nawawi-di dalam kitab yang sama-menjelaskan bahwa hal itu karena semua perintah Allah berpusat pada dua hal, yaitu mengagungkan dzat-Nya dan bersikap welas asih kepada makhluk ciptaan-Nya. Oleh karenanya, perintah sholat disandingkan dengan perintah untuk berzakat, atau perintah bersyukur kepada-Nya yang disandingkan dengan perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua.[ii]
***
Saat ini, masyarakat Indonesia sedang menghadapi pandemi Covid-19, yang entah hingga kapan pandemi ini akan berakhir. Di bulan-bulan ini, masyarakat-terutama ekonomi lemah-akan menghadapi masa-masa sulit. Perekonomian bisa saja akan ambruk. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk memberi manfaat bagi orang lain. Pemerintah dan pejabat dengan melakukan kebijakan-kebijakan yang tepat dan pro rakyat, ulama dengan memberikan nasehat-nasehat untuk terus bersabar dan mendekatkan diri kepada Allah, orang-orang kaya dengan menyisihkan sedikit dari hartanya dan membantu orang yang membutuhkan, dan orang-orang lemah dan terzhalimi dengan mendoakan para pemimpin dan dermawan dengan doa-doa kebaikan. Karena tiada penghalang antara Allah dengan doa-doa mereka.

Gorontalo, 05 April 2020


[i]lihat Nashaihul Ibad., h. 3-4.

Sunday, February 3, 2019

Urgensi Istiqamah

Suatu ketika, Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi mendatangi Rasulullah saw., dan berkata: katakanlah padaku suatu perkataan di dalam Islam yang aku tidak akan menanyakan tentangnya kepada orang lain setelah engkau. maka Rasulullah saw., menjawab: katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah. (HR Muslim)
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istiqamah berarti sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Adapun menurut istilah, istiqamah adalah tetap dalam pendirian, yaitu ketetapan hati untuk selalu melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang baik atau berketetapan hati, tekun, dan terus-menerus mengiatkan usahanya untuk mencapai cita-citanya.
Istiqamah adalah kata yang mudah diucapkan oleh lisan, tetapi sangat sulit untuk diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Betapa banyak orang yang berbuat kebajikan namun sulit untuk kontinu dalam melaksanakan kebajikan tersebut. Oleh karena itu, Rasulullah saw.,-sebagaimana pada hadis di atas-mengisyaratkan bahwa suatu amal yang terbaik setelah beriman kepada Allah swt., adalah istiqamah. Imam al-Qusyairi berkata[1]:
الاستقامة درجة بها كمال الأمور وتمامها ، وبوجودها حصول الخيرات ونظامها ، ومن لم يكن مستقيما ضاع سعيه ، وخاب جهده.
“istiqamah adalah suatu derajat yang dengannya tercapai kesempurnaan segala perkara. dan dengan keberadaannya, tergapai kebajikan serta keteraturannya. Dan orang yang tidak istiqamah, akan hilang dan sia-sia usahanya”.
------
Menulis di blog adalah salah satu keinginan saya sejak awal kuliah di Mesir dahulu. Berbagai blog telah saya buat, namun hanya satu yang benar-benar bertahan, sedang yang lainnya raib ditelan waktu. Ada banyak alasan kenapa saya ingin menulis di blog, yang paling utama adalah ingin memberikan manfaat kepada siapa saja dengan sedikit ilmu yang saya miliki. Saya senantiasa teringat petuah yang diajarkan oleh guru kami ketika masih mondok di salah satu pondok pesantren di Gorontalo, sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, dan saya berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain melalui tulisan yang saya buat.
Namun demikian, harapan tak selamanya mudah untuk digapai. Berbagai kesibukan di pondok pesantren Hubulo-tempat saya mengabdikan ilmu saya-, kuliah pascasarjana, serta kesibukan lainnya menyita waktu saya dan membuat saya lalai dalam mengisi blog ini. Lebih dari setahun, saya tak menuliskan apapun di blog ini. Ini tentu sangat disayangkan.

Oleh karena itu, saya ingin mencoba untuk istiqamah dalam menuliskan ide-ide yang saya miliki. Meski hanya sedikit, saya akan berusaha untuk istiqamah. Saya teringat sabda Nabi saw.,-ketika ditanya tentang amalan yang paling disukai Allah swt.- “yang paling kontinu, meski hanya sedikit”.

Bismillahirrahmanirrahim.

Gorontalo, 03 Februari 2019



[1]Peryataan ini dapat dilihat pada kitab Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih karya Ali bin Sultan Muhammad al-Qari, pada pembahasan hadis ke-15.


Thursday, December 31, 2015

Memaknai Pergantian Tahun

Kembang api bertebaran di udara, suara terompet saling bersahutan. Pria wanita, tua muda semua bersuka cita menyambut pergantian tahun. Ada konser musik, ada pesta rakyat, ada pula yang pesta miras. Semuanya bersuka ria dan berpesta pora.
Namun, inikah yang seharusnya kita lakukan dalam menyambut pergantian tahun?
Sejatinya pergantian tahun sama halnya dengan pergantian hari. Siang menjadi malam, malam menjadi siang, dan siang kembali menjadi malam. Begitulah adanya.
Namun manusia mudah tertipu daya. Media membesar-besarkannya. Para idola memberi contoh dengan perbuatan dan kata-kata. Dan kita dengan mudahnya mengikuti itu semua.
Sejatinya, semakin bertambah hari, semakin berkurang jatah umur kita. Semakin bertambah umur, semakin dekat kita dengan ajal kita. Dan pergantian tahun hanya pertanda bahwa kita semakin dekat dengan kiamat. Sudahkah kita mempersiapkan diri dengan bekal amal untuk itu semua?. Layakkah kita merayakannya dengan kembang api dan segala tetek bengeknya? Atau jangan-jangan kita termasuk satu di antara sekian banyak orang yang terpedaya dengan propaganda?.
Sungguh, waktu yang telah berlalu tak bisa kembali lagi. Kita hanya bisa mensyukurinya atau menyesalinya. Bersyukur karena telah menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Menyesali kelalaian diri dalam memanfaatkan waktu.
Alangkah baiknya bila kita meneladani Umar bin Khattab r.a., yang selalu menangis tersedu di setiap akhir malamnya karena takut bahwa dosanya hari ini lebih banyak dari amal ibadahnya. Takut karena tahu bahwa ini semua akan dimintai pertanggungjawabannya dari sang pencipta. Beliau senantiasa memberi wanti-wanti:
حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَ زِنُوْا أَعْمَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنَ عَلَيْكُمْ
Hisablah dirimu sebelum engkau nanti dihisab (pada hari kiamat), dan timbanglah amalmu sebelum amalmu itu ditimbang atasmu.
Sungguh, amat merugi orang yang terpedaya oleh gegap gempita pergantian tahun, tertawa riang gembira melupakan segala dosa yang telah ia perbuat di sepanjang tahun. Sungguh, orang yang banyak tertawa di dunia, ia akan banyak menangis di dalam kuburnya, begitulah petuah sayyidina Ali.
Sungguh, amat beruntung orang yang senantiasa mawas diri. Selalu menghitung amal perbuatannya, apakah ia termasuk orang yang beruntung atau merugi. Sungguh, dengan demikian ia akan selalu memperbaiki diri dan bertaubat, memohon ampun atas segala dosa.
Mari kita maknai pergantian tahun dengan ber-muhasabah, seraya memohon ampun atas segala dosa kita, serta bertekad memperbaiki diri di hari yang akan datang.
وَ الْعَصْرِ ، إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَ عَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَ تَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَ تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Gorontalo, 31 Desember 2015

Thursday, December 17, 2015

Nalar Takfir dan Kaum Takfiri Baru

Lembaga Fatwa Negara Republik Arab Mesir (Dar al-Ifta’ al-Mashriyyah) menegaskan bahwa nalar takfir adalah cara berpikir lama yang akhir-akhir ini muncul kembali di tengah-tengah kita dengan wajah baru. Kini ia mencuat kembali ke permukaan seiring dengan munculnya gerakan-gerakan jihadi dan takfiri di beberapa wilayah negara Arab, seperti Syiria, Libya, dan Irak, terutama setelah peristiwa Revolusi Musim Semi Arab (Arab Spring/al-Rabi’ al-‘Arabi). Gerakan-gerakan tersebut terus menyebar ke beberapa kawasan di Timur Tengah, apalagi setelah kelompok-kelompok Islam politik memenangkan kontestasi kekuasaan di Mesir dan Tunisia. Situasi ini semakin memberikan ruang yang sangat kondusif bagi tumbuhnya generasi baru kelompok jihadi dan takfiri, khususnya di Mesir.
Hanya saja, gerakan-gerakan jihadi dan takfiri baru ini berbeda dengan para pendahulunya di tahun 80-an hingga 90-an. Gerakan jihadi dan takfiri pada periode 80-an hingga 90-an cenderung terpecah ke beberapa kelompok yang terbatas, para pemimpinnya dikenal secara luas, memiliki keserupaan dalam pemikiran, namun faksi takfirnya tidak sebesar gerakan-gerakan takfiri yang muncul belakangan ini.
Menurut hasil kajian Lembaga Fatwa Negara Mesir yang berjudul “Nalar Takfir: Dasar Pemikiran dan Metodenya”, fenomena kemunculan kembali nalar takfir ini disebabkan oleh semakin menguatnya dominasi pemikiran salafi yang kaku, anti-dialog, alergi pada kemajuan, diskriminatif terhadap perempuan, serta suka memilah-milah masyarakat menjadi masyarakat mukmin dan masyarakat kafir.
Hasil kajian Dar al-Ifta’ juga menjelaskan bahwa pemikiran kelompok al-Qaedah, pada awalnya, menyerukan untuk memerangi “musuh jauh”, yaitu kaum Yahudi dan kaum Salib terlebih dahulu sebelum memerangi “musuh dekat”, yaitu sistem pemerintahan yang berlaku di beberapa negara kawasan Timur Tengah. Namun dalam perkembangannya, kelompok al-Qaeda membalik pemikiran ini, sehingga memerangi “musuh dekat”, yaitu sistem pemerintahan, harus didahulukan daripada memerangi “musuh jauh”. Perkembangan pemikiran terakhir inilah yang dianut oleh generasi kelompok jihadi baru di Mesir.
Tidak hanya itu, muatan nalar takfir dalam pemikiran generasi baru kelompok jihadi ini juga semakin besar, sehingga mereka menganggap negara dan sistem kenegaraan yang berlaku saat ini adalah sistem kafir. Demikian pula seluruh lembaga-lembaga negara dan pemerintahan juga kafir. Polisi dan tentara adalah abdi negara yang juga kafir dan wajib diperangi. Karena pandangan itulah, maka tidak heran jika kemudian sasaran serangan mereka adalah institusi-institusi keamanan dan fasilitas-fasilitas penting negara.
Oleh sebab itu, penting untuk melihat karakteristik nalar takfir generasi baru yang akhir-akhir ini semakin berkembang, khususnya di Mesir dan beberapa kawasan di sekitarnya, berikut dasar pemikiran dan metodenya, hingga akibat-akibat yang ditimbulkannya sebagaimana telah kita saksikan dalam kehidupan kita selama ini.
A. Negara Islam dalam Pandangan Kelompok Takfiri
Kelompok takfiri berpandangan bahwa pemiliham umum itu kafir. Demikian pula sistem demokrasi juga kafir, karena dalam pandangan mereka, demokrasi itu menyaingi syari’at Tuhan, menyetarakan kedudukan muslim dan kafir, menyamakan yang baik dan yang jahat, bahkan memberi mereka hak sama untuk memberikan suara dan mencalonkan diri dalam pemilihan umum. Dalam pandangan mereka, cara pemilihan pemimpin menurut Islam adalah dengan syura yang dilakukan oleh lembaga ahl al-hall wa al-‘aqd yang terdiri dari para ulama dan pemimpin (umara’). Tidak boleh ada campur tangan orang-orang kafir dan jahat dalam proses pemilihan Islami ini.
Bagi mereka, dalam negara Islam, seluruh persoalan seharusnya ditangani oleh apa yang mereka sebut sebagai “ulama’”, yaitu para tokoh-tokoh agama. Negara hanya butuh tokoh dan ahli agama (ulama’), bukan yang lainnya. Sebab itu, sebagai konsekuensi pandangan ini, ulama sebagai pemangku politik Islam harus diberikan posisi sebagaimana seorang pendeta yang memiliki kuasa penuh untuk mengatur negara dan seluruh masyarakat. Mereka harus diberi kedudukan yang tidak ada tandingannya, dan merekalah yang menentukan seluruh kebijakan, peraturan dan semua hal yang berkaitan dengan masalah-masalah keagamaan maupun keduniaan.
Dari sinilah tampak bahwa pemikiran kelompok takfiri itu memungkiri ijtihad dan pembaruan (tajdid). Mereka berpegang kecara ketat dan kaku pada tekstualitas dalil-dalil agama atau pendapat yang dianggap paling benar. Mereka juga menganggap syari’at Islam itu adalah teks-teks yang kaku, yang tidak dapat berinteraksi dan tidak mempertimbangkan faktor waktu, tempat, maksud dan tujuan dalam penerapannya.
Kelompok takfiri ini juga menggunakan alasan syari’at Islam untuk melakukan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Mereka melarang perempuan keluar rumah kecuali dalam keadaan darurat. Sayangnya, belajar dan bekerja bagi mereka bukanlah keadaan darurat yang membolehkan perempuan keluar rumah. Pandangan semacam ini jelas memusuhi perempuan. Melarang perempuan bekerja berarti merampas hak hidup layak mereka, dan melarang mereka belajar sama saja dengan membunuh secara keji masa depan mereka.
Dalam bidang seni-budaya, kelompok takfiri juga menganggap lagu, musik, olah raga dan berbagai cabang kesenian itu haram di negara Islam. Demikian pula sistem keuangan perbankan, saham dan lain-lain haram diberlakukan di negara Islam. Tidak hanya itu, alat-alat modern seperti kamera, mesin percetakan, gambar, dan lukisan itu haram, dan tidak boleh bekerja dalam bidang-bidang yang berhubungan dengan barang-barang haram tersebut, termasuk di televisi dan bioskop.
Mereka juga melarang berdirinya perusahaan dan lembaga-lembaga bisnis yang dikelola berdasarkan hukum-hukum positif, karena hal itu dianggap bertentangan dengan hukum Tuhan. Sebagaimana mereka juga melarang seluruh transaski keuangan modern, apalagi yang mengandung bunga, terlebih jika melibatkan pihak atau negara kafir, karena itu dianggap secara jelas bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.
Mereka juga mendidik putera-puteri mereka melalui sebuah sistem pendidikan yang tidak akomodatif terhadap kemajuan dan hasil capaian-capaian dunia modern, apalagi yang berasal dari dunia Barat. Anak-anak mereka dididik untuk setia dan teguh memegang pola hidup dan pemikiran para pendahulu (salaf al-shalih) sebagaimana yang mereka pahami.
B. Cara Pandang Kelompok Jihadi dan Takfiri
1.Negara dan Masyarakat
Kelompok takfiri memandang masyarakat Muslim masa kini sebagai masyarakat yang dungu (jahilah), karena gaya dan pola hidup mereka bercirikan gaya dan pola hidup kafir, menerima hukum selain hukum TUhan, tunduk pada aturan-aturan buatan manusia dan meninggalkan syari’at Islam, serta meniru gaya kaum yahudi dan Nasrani dalam seluruh sendi kehidupan. Hal ini, menurut kelompok takfiri, disebabkan masyarakat Muslim tidak lagi berpegang teguh pada agama Islam, dan cenderung mengikuti segala hal yang berbau Barat yang kafir.
Untuk mengembalikan masyarakat Muslim ke dalam ajaran-ajaran Islam, menurut kelompok takfiri, adalah mulai dari meninggalkan seluruh sistem dan hukum positif buatan manusia lalu kembali kepada syari’at Islam, al-Qur’an, dan hadis, yang merupakan penuntun dalam seluruh sendi kehidupan masyarakat Muslim. Dalam rangka inilah kaum takfiri membolehkan pembangkangan terhadap pemerintah Muslim yang menerapkan hukum-hukum positif, karena hukum-hukum itu bertentangan dengan hukum-hukum Tuhan dan harus dihapuskan melalui perjuangan umat Islam.
Kaum takfiri tidak mengakui adanya perbatasan di antara negara-negara Islam. Bagi mereka, seluruh dunia Islam adalah satu negara di bawah bendera khilafah Islamiyyah. Khilafah Islamiyyah dipandang dapat mengembalikan kejayaan umat, membantu kaum Muslim meningkatkan derajat dan menyebarkan agama mereka ke seluruh dunia. Atas dasar pandangan inilah, kelompok takfiri membolehkan melanggar perbatasan atau menginjak teritori negara lain, dan bahkan menjadi kelompok separatis di suatu negara demi membangun negara Islam. Hal ini terjadi misalnya pada kelompok-kelompok dan gerakan-gerakan yang saat ini menduduki kawasan Sinai di Mesir, juga kelompok Jundullah yang muncul di antara perbatasan kota Rafah dan Gaza di Palestina, di mana mereka berusaha menjadikan kota Rafah sebagai kota Islam sebagai cikal-bakal berdirinya khilafah Islam yang mereka cita-citakan. Dan untuk mewujudkan cita-cita itu, mereka tidak segan-segan memerangi kelompok Hamas yang selama ini memegang kendali pemerintahan di Gaza.
2. Konsekuensi Pengafiran Negara dan Masyarakat:
Nalar takfir memang menentang masyarakat dan negara modern. Maka tak heran jika kelompok takfiri menganggap konsep negara bangsa berdasarkan wilayah tertentu itu merupakan konspirasi untuk memusuhi Islam dan kaum Muslim serta membendung terbentuknya khilafah Islamiyyah. Karena itulah, mereka selalu berusaha meruntuhkan institusi-institusi negara dan menciptakan kekacauan dengan berbagai cara, mulai dari mengafirkan seorang presiden hingga memfatwakan pembangkangan atas presiden yang menerima sistem demokrasi dan tidak memberlakukan syari’at Islam.
Kelompok takfiri juga melarang masyarakat menjadi pegawai di semua insitusi negara karena semua institusi itu dianggap institusi jahiliyyah yang tidak hanya bertentangan dengan syari’at Islam, tapi juga harus dibubarkan dan diganti dengan institusi-institusi lain yang sesuai dengan syari’at Islam. Untuk itu mereka mengeluarkan banyak fatwa dan pernyataan yang mengharamkan bekerja di institusi-institusi negara dan pemerintahan, bahkan mengajak untuk membubarkan seluruh institusi resmi negara, meskipun harus dengan cara menggunakan kekerasan demi melenyapkan kemungkaran dan menegakkan negara yang dalam pandangan mereka selaras dengan syari’at Islam.
Sebagai konsekuensi lebih lanjut dari negara yang dianggap kafir, mereka juga membolehkan tidak membayar semua kewajiban warga negara yang dibebankan negara, karena menurut mereka, Islam melarang berurusan dengan sebuah negara kafir. Islam juga melarang patuh pada semua aturan, hukum positif, dan pengadilan kaum kafir, termasuk berpartisipasi dalam pemilihan umum dan segala bentuk partisipasi politik lainnya yang lazim berlaku di sebuah negara demokratis.
Mereka juga memfatwakan wajib menyerang para petugas keamanan, karena mereka penjaga kelompok orang yang menghambat tegaknya syari’at Islam. Bahkan mereka membolehkan membunuh rakyat sipil, termasuk wanita dan anak-anak dengan dalih dalam rangka melemahkan cengekeraman musuh yang kafir. Sebab itu, banyak terjadi kaum takfiri membunuh atau berusaha melenyapkan tokoh-tokoh penting, para pejabat negara, kaum intelektual dan wartawan. Mereka juga berusaha menghancurkan ekonomi dengan cara menyerang para wisatawan, menghancurkan kantor-kantor wisata, bank, terusan Suez, kilang-kilang minyak, dan sebagainya. Bahkan mereka tak segan menyerang para penganut Koptik sehingga menyebabkan krisis berkepanjangan, baik dalam bidang keamanan, politik, maupun sosial.
3. Masyarakat dan Organisasi Internasional
Kelompok takfiri memandang dunia ini sebagai ajang pertempuran yang tak terelakkan antara berbagai pemeluk agama dan kebudayaan. Mereka memandang Barat selalu melakukan konspirasi untuk menghancurkan Islam dan membuat umat Islam meniru gaya hidup Barat, sehingga umat Islam meninggalkan agamanya, dan tidak lagi memedulikan ajaran, nilai, dan tujuan yang ditunjukkan Islam.
Mereka membagi manusia di muka bumi ini hanya ke dalam dua kelompok berdasarkan keyakinannya: kelompok Muslim, dan kelompok kafir yang selalu terlibat dalam upaya menghancurkan Islam dan kaum Muslim. Kelompok kafir ini terdiri dari kaum Yahudi dan kaum Salib kafir yang bekerja sama dengan negara-negara murtad dari Islam serta selalu menghalangi penegakan syari’at Islam. Sebab itulah, kelompok takfiri selalu menyerukan jihad dengan senjata dan perang terbuka untuk melawan negara-negara yang menurut mereka kafir. Mereka juga menyerang negara-negara Arab dan Islam yang membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara kafir itu, mengizinkan kapal-kapal negara kafir melintasi perairan negara Islam, mengizinkan wisatawan dari negara kafir masuk untuk memata-matai , menyebarkan kemaksiatan dan melakukan kristenisasi di negara Islam melalui topeng wisata.
Tindakan-tindakan tersebut disandarkan oleh kelompok takfiri kepada pendapat beberapa ulama salaf yang memberikan segregasi dalam hal interaksi, hak, dan kewajiban antara kelompok dar al-Islam dan kelompok dar al-harb, menolak persamaan hak hukum, karena kelompok dar al-Islam memberlakukan syari’at Islam, sementara kelompok dar al-harb memberlakukan hukum-hukum kafir.
Bagi kelompok takfiri, memerangi kelompok kafir bukan pilihan taktis, melainkan target dan tujuan strategis, karena sejak awal hingga saat ini, Islam tetap mewajibkan hal itu dalam rangka mengislamkan dunia dan membebaskan negara-negara Islam dari perjanjian-perjanjian internasional yang tidak sesuai dengan syari’at Islam.
Kelompok takfiri juga mengharamkan bergabung dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), karena organisasi ini menggunakan sistem kapitalis-sekuler. Negara-negara yang bergabung ke dalam PBB berarti tunduk pada sistem itu, serta menerima semua perjanjian dan hukum-hukum internasionalnya, dan itu berarti juga tunduk pada sistem sekuler-kafir yang dianutnya. Karenanya, menurut kelompok takfiri, bergabung ke dalam PBB itu hukumnya haram.
Hubungan dengan negara-negara Barat, dalam pandangan kelompok takfiri, adalah hubungan perseteruan dan perlawanan kaum Muslim untuk membela agama dan menyebarkannya. Mereka menganggap, mungkin saja di pihak negara-negara Barat ada ilmuwan-ilmuan Muslim yang menggadaikan akidah dan agama mereka untuk mengabdi pada kepentingan Barat. Para ilmuwan itu, bagi kaum takfiri, adalah para pengkhianat agama dan umat yang harus diperangi dan dilenyapkan. Atas dasar pandangan inilah kaum takfiri menyerang beberapa negara Islam karena menganggap negara-negara itu merupakan kepanjangan tangan dari negara-negara Barat, dan pada saat yang sama mereka juga menyerang aset-aset penting negara Barat.
Jadi tujuan utama kelompok takfiri dengan nalar takfirnya yang ekstrim tersebut adalah mengislamkan kembali dunia dan membangun negara teokrasi di setiap negara yang berhasil dibebaskan dari sistem kafir. Hal itu dimulai dari membebaskan umat Islam dari apa yang mereka sebut sebagai “jahiliyyah baru”, dan membangun masyarakat Islam baru yang ideal. Masyarakat Islam yang ideal, dalam pandangan kelompok takfiri, adalah sebagaimana yang pernah dibangun oleh kelompok Taliban. Bagi mereka, Taliban telah mewujudkan keadilan, menegakkan syari’at Islam, serta membangkitkan kembali jihad melawan kaum kafir dan para sekutunya.
4. Konsekuensi Pengafiran Barat dan Dunia Luar
Bagi kelompok takfiri, karena Barat itu kafir dan memusuhi Islam, maka sudah selayaknya diperangi dan seluruh kepentingannya di dunia ini hancurkan. Tidak hanya itu, kelompok takfiri juga membolehkan bahkan mewajibkan membunuh para wisatawan asing demi membela Islam, karena bagi mereka, para wisatawan asing yang mengunjungi negara-negara Islam itu sebenarnya tujuannya hanya salah satu di antara tiga: melakukan kristenisasi, atau menyebar kemaksiatan, atau memata-matai umat Islam untuk kepentingan Yahudi dan Nasrani.
Begitu juga perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di negara-negara Islam tak ada bedanya dengan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris yang juga banyak terdapat di negara-negara Islam. Semua perusahaan dan pangkalan militer itu dianggap kelompok takfiri sebagai langkah awal invasi Yahudi dan Nasrani ke dunia Islam. Karenanya, mereka harus segera diusir dari wilayah negara-negara Islam.
Tak terkecuali kantor-kantor perwakilan negara Barat, terutama Amerika Serikat dan negara-negara kafir lainnya. Bagi kelompok takfiri, kantor-kantor perwakilan itu adalah sarang para musuh Allah dan Rasul-Nya. Sebab itu, sangat memalukan bila terdapat polisi atau tentara Muslim yang ikut menjaga sarang-sarang Negara-negara kafir musuh Islam itu. Seorang polisi atau tentara Muslim, menurut kelompok takfiri, wajib menjauhi dan menolak perintah siapapun untuk menjaga kantor perwakilan yang menjadi sarang kaum kafir tersebut.

Kisah Klasik Kehidupan

kisah klasik itu bermula dari sebuah keputusan untuk merantau,meninggalka­n segala kenangan demi menggapai cita.
dan dari sinilah kisah itu bermula, sebuah kejutan menyambut sang tamu dengan tertawa mengejek ketika kaki ini menapak untuk pertama kalinya di dunia pasir. kardus-kardus tanah menyambut kita, membuyarkan segala bayangan semu kita, mengantarkan kita kepada kenyataan hidup. ditambah dengan kesemrawutan kehidupan di negeri tujuan ini, semakin lengkaplah kejutan itu. Seluruh pepasir di negeri ini seolah bersuara lantang: inilah negerimu sekarang!!!!! negeri untuk meraih segala cita-citamu!!!!!
cita-cita apa??? yang mana??? apakah aku pernah mempunyai cita-cita seperti itu???
sederet pertanyaan, walaupun tak pernah terucapkan dengan kata,tapi terucap dengan prilaku.
dan secara perlahan, segala pengorbanan itu tersia-siakan hanya karena kita tlah melupakan cita-cita. pengorbankan segala materi itupun tlah terlupakan. pengorbanan dengan meninggalkan semua yang kita cintai pun seolah tak mampu tuk menyadarkan kita,bahwa kita telah menyimpang jauh dari tujuan awal kita...
dan...akhirnya kemalasan telah menjadi sahabat sejati kita.
entah berapa kali kita mengkonsumsi ilmu, yang pasti takkan lebih banyak dari konsumsi kita terhadap pepsi. bahkan kita enggan tuk menyapanya.menyentuh­nya layaknya sebuah bola yang selalu kita samakan layaknya makanan yang kita konsumsi dan kita nikmati. tak pernah!!!!!!
dan akhirnya, penyesalanlah yang menemani kehidupan kita selanjutnya. ketika pengumuman berdiri angkuh memamerkan hasil usaha kita.... dan kita???
kita terpilah-pilah dan dipilih-pilih sesuai dengan kristalisasi keringat kita dan ketaatan kita kepada-Nya.sudah tentu, orang yang telah berusaha sebaik mungkin takkan mungkin gagal,kalaupun ada, itu semua murni untuk menguji hamba-Nya sejauh mana dia bisa bersabar. sedangkan kita yang hanya bermalas-malasan, itu semua merupakan hasil dari buah tangan kita sendiri,tak ada yang berhak untuk kita salahkan selain diri kita sendiri.kalaupun ada yang mendapatkan hasil yang lebih dari apa yang ia usahakan,sesungguhny­a itu semua merupakan anugerah tuhan kepadanya,untuk mengetahui sejauh mana ia mensyukurinya dan bagaimana ia menyikapinya.apakah dengan perbuatan yang sama dengan sebelumnya atau dia telah berubah. itu semua untuk menjadi ibrah bagi orang lain.
orang yang mendapat kabar memuaskan itu, sudah tentu ia senang dan bersyukur kepada tuhannya. akan tetapi bagaimana dengan yang sebaliknya???
penyesalan memenuhi hatinya, air matapun membasahi sudut matanya, walau ada juga yang tidak menangis, tapi sesungguhnya hati itu ikut menangis
bagaimana mungkin tidak menyesal???
bagaimana mungkin tidak menangis???!!
membayangkan segala apa yang akan kita hadapi selanjutnya, pertanyaan orang tua kita yang seolah-olah bagaikan pisau yang mengiris dan menguliti kulit kita. perih dan sakit. betapa tidak?! karena kita secara sengaja tlah mengkhianati kepercayaan orangtua kita kepada kita.
membayangkan waktu kita yang harus menunggu 1 tahun lagi untuk bisa merasakan tingkat yang lebih tinggi,ilmu yang lebih tinggi, biaya hidup yang semakin membengkak yang berimplikasi pada pembebanan kepada orangtua, tertundanya beasiswa, tertundanya niat kita tuk bertemu lebih cepat dengan orang-orang yang kita kasihi.
akan tetapi... apa manfaat penyesalan dan tangisan itu???
tidak ada!!!!!
tangisan kita takkan merubah nilai yang sudah pasti itu. air mata kita takkan bisa menggantikan tinta merah menjadi hitam. penyesalan kita takkan bisa merubah segalanya!!!!
oleh karena itu, tangis bukanlah solusinya.solusi itu adalah dengan berubah !!!
merubah segala kemalasan kita,keteledoran kita dan kekurangan kita. biarlah kesalahan kita yang dulu menjadi sebuah kisah klasik dalam kehidupan kita.sekarang songsonglah masa depan !!!!!
seekor kerbau yang pernah terperosok pada satu lubang ia takkan mengulanginya masuk ke lubang yang sama ntuk kedua kali. maka kita yang alllah tlah bekali akal harusnya lebih baik dari seekor kerbau. jangan lagi terperosok ke lubang"kemalasan"­.
akhirnya,....
selamat berimtihan ria, semoga kita termasuk minan najihin. 
Kairo, 23 April 2007
*tulisan ini adalah repost dari blog saya sebelumnya.

Sunday, May 24, 2015

Maulid Nabi dan Kemunduran Akhlak

Dan tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia(Al-Hadits).

Penggalan hadits di atas mempunyai makna yang begitu besar dalam tujuan risalah nabi besar kita. Sejarah membuktikan, bahwa nabi Muhammad adalah orang yang terkenal dengan julukkan " Al-Amien" yang artinya terpercaya dalam sejarah pra islam. Dengan julukan itu pula, masyarakat Arab Quraisy dengan senang hati menyerahkan urusan peletakan hajar aswad kepada nabi Muhammad. Di zaman itu, kemerosotan moral merajalela. Ayah tega mengubur anak-anak perempuannya hidup-hidup, anak laki-laki sulung berhak mewarisi istri ayahnya apabila meninggal, perzinahan merajalela, perselisihan dan pertempuran antar suku terjadi di mana-mana, dan masih banyak lagi bentuk kebejatan moral mereka ketika itu. Pada era seperti itulah, Allah swt. Mengutus nabi Muhammad untuk membawa risalah agamanya, dan bagian terpenting dari risalah itu sendiri adalah memperbaiki kebobrokan moral manusia.

Secara perlahan, nabi Muhammad memperbaiki moral masyarakat saat itu, agar mereka memiliki akhlak karimah yang sesuai dengan tuntunan islam. Maka perzinahan pun dilarang, mabuk-mabukan diharamkan, perintah untuk berbakti pada orang tua, dan masih banyak lagi tuntunan islam dalam masalah akhlak. Akhirnya, lambat laun masyarakat arab pun berubah menjadi masyarakat yang bermoral dan beradab.

Berbicara masalah akhlak, nabi Muhammad merupakan sosok yang paling pantas untuk kita teladani. Allah sendiri memuji akhlak nabi Muhammad dengan firmanNya yang berbunyi: dan sungguh engkau(Muhammad ) memiliki akhlak yang mulia (Q.S. Al-Qalam: 4). Pujian seorang atasan terhadap bawahannya merupakan penghargaan kepadanya, begitu pula pujian Allah terhadap akhlak nabi Muhammad. Bahkan, Allah memerintahkan kita untuk berqudwah kepada nabi Muhammad. "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu"(Q.S. Al-Ahzab: 21 ). Oleh karena itu, sungguh pantas kalau kita menempatkan nabi Muhammad pada podium utama untuk menjadi sosok idola kita.

Kini, setelah berabad-abad lamanya nabi Muhammad meninggalkan kita semua, umat islam perlahan-lahan kembali kepada zaman jahiliyyah modern. Moral kita kembali kepada keadaan seperti sebelum terbitnya cahaya islam. Perzinahan kembali merajalela, bukan hanya oleh orang non-islam, tapi orang yang mengaku islam sendiri sudah tidak malu-malu lagi melakukan hal itu. Tempat-tempat prostitusi sudah menjamur di beberapa daerah yang note benenya malah berbasis islam. Bahkan lebih parahnya lagi, pemerintah memberikan legalisasi untuk prostitusi itu sendiri. Perjudian kembali hidup di tengah-tengah kita dan menjadi parasit bagi kehidupan kita, bahkan ia sudah menjadi candu bagi sebagian orang. Shabu-shabu dan mabuk-mabukan pun tak ketinggalan dengan itu semua. Hampir di setiap kios-kios tersedia minuman-minuman keras. Pemuda-pemuda pun beralih profesi menjadi pemabuk di sudut-sudut jalanan dan meninggalkan tugas utamanya, yaitu berjuang mempertahankan islam.

Di tengah-tengah zaman seperti inilah, dibutuhkan suatu filter untuh mencegah penyebaran penyakit moral yang lebih parah. Filter yang bukan saja untuk mencegah, tetapi juga untuk mengobati penyakit menular yang sangat meresahkan ini. Dan di antara filter itu adalah dengan memperingati maulid nabi Muhammad saw. Dengan memperingati maulid nabi, kita bisa mengintrospeksi diri kita dari kelalaian kita yang selama ini telah kita perbuat dan mengambil hikmah dari tujuan risalah rasul serta menggali sisi-sisi kemuliaan akhlak nabi Muhammad untuk kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Terlepas dari perselisihan pendapat para ulama’ seputar hukum maulid nabi Muhammad saw, penulis melihat betapa pentingnya penyelenggaraan peringatan maulid nabi dan cenderung mendukung pendapat yang mengatakan bahwa hukum maulid nabi adalah boleh. Hal itu berdasarkan manfaat yang dihasilkan dari pelaksanaan maulid nabi. Selain itu, selama hal itu tidak berdampak negatif dan tidak bertentangan dengan masalah aqidah, maka itu bisa digolongkan dengan bid’ah hasanah, seperti penggolongan yang dilakukan oleh Imam Syafi’ie terhadap bid’ah.

Akhirul kalam, dengan peringatan maulid nabi ini, semoga kita bisa meneladani jejak-jejak kehidupan nabi Muhammad dan menambah kecintaan kita kepada beliau. 

Catatan:
Tulisan ini saya tulis sekitar tahun 2007 saat saya masih di Mesir. iseng-iseng saya mencari-cari tulisan saya di mesin pencari google dan mendapatkan tulisan saya ini di salah satu forum, yang bahkan saya sendiri hampir lupa bahwa saya telah menulisnya. maka saya merepost tulisan ini agar tetap terjaga dan tidak mubazir.


Gorontalo, 24 Mei 2015

Wednesday, May 13, 2015

Indahnya Kebersamaan



Saya memiliki 2 orang kakak perempuan, Isro’anah dan Dewi Azzah. Selama ini kami selalu akur dan jarang berselisih paham. Namun bisa dibilang bahwa kami sangat jarang berkumpul bersama-sama dalam waktu yang lama. Tuhan menuntun kami menuju takdir kami masing-masing .
Ketika saya masih kecil, kakak pertama saya dikirim oleh ayah ke pulau Jawa, tempat nenek moyang kami, untuk menuntut ilmu dan menimba pengalaman hidup. Selama empat tahun, ia hidup di Blitar dan bersekolah di MAN Tlogo. Sementara saya dan kakak kedua tinggal bersama ayah dan ibu di kampung. Ada rasa kehilangan, namun untuk meraih cita-cita harus ada pengorbanan yang diberikan.
Belum jua kakak pertamaku kembali ke kampung, kakak kedua juga harus melanjutkan studi di luar daerah. Maklumlah, saat itu di kampung saya belum ada sekolah setingkat SMA/SLTA. Sehingga bila ingin melanjutkan studi, maka harus pergi merantau ke kota. Kakakku masih bersekolah di sekitar Provinsi Gorontalo. Tidak jauh memang, tetapi tetap saja kakakku harus meninggalkan kampung karena tidak memungkinkan untuk pulang balik dari kota ke kampung. Ia bersekolah di SMEA Limboto, saat ini bernama SMKN I Limboto. Ia tinggal dan menumpang di rumah orang yang bersedia memberikan tempat tinggal buat kakakku. Jadilah saya sendirian di rumah tanpa kedua kakak saya. Dan itu berlangsung selama beberapa tahun.
Setelah beberapa tahun, kakak pertama saya kembali. Ada rasa canggung bagi bertemu kembali dengan kakak yang telah lama merantau ke pulau Jawa. Perlu diingat, bahwa saat itu belum ada facebook, twitter, atau sosial media lainnya. alat komunikasi lainnya seperti telepon pun sangat sulit untuk dijangkau, sehingga komunikasi dilakukan dengan menggunakan pos surat, dan itu memakan waktu yang lama untuk sampai di tangan kita. Tak lama setelah kakak pertama berada di rumah, kakak kedua saya ternyata juga ditakdirkan untuk meninggalkan pulau sulawesi dan menuju pulau jawa. Dan kali ini tidak diketahui sampai kapan ia di Jawa.
Ceritanya begini, pemilik rumah tempat kakak kedua saya menumpang sangat menyayangi kakak saya, dan mereka sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Kebetulan mereka tidak memiliki anak perempuan sehingga menjadikan kakak saya layaknya anaknya sendiri. Karena tugas dinas, kedua orang tua tersebut dimutasi ke pulau jawa, tepatnya ke tempat asal mereka di pulau jawa. Mereka ingin mengajak kakak saya turut serta ke pulau jawa. Setelah beberapa lama musyawarah dengan ayah, maka kakak pun diizinkan untuk pergi ke jawa timur, merantau dan mencari pengalaman hidup. Hingga saat ini, kakak saya masih di Surabaya. Bisa dikatakan bahwa ia telah menetap di sana, membangun keluarga dan mendapatkan pekerjaan yang mapan. Dalam beberapa tahun sekali ia menyempatkan mudik ke Gorontalo dan bertemu dengan kami.
Setelah beberapa tahun kemudian, giliran saya yang harus meninggalkan kampung halaman dan masuk ke pesantren selama 6 tahun. Hanya pada liburan panjang saja saya bisa kembali ke rumah dan bertemu dengan orang tua dan kakak saya. Ternyata perantauan saya belum cukup di situ, setelah 6 tahun di pesantren saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah di Mesir selama 4 tahun. Praktis selama itu pula saya tidak kembali ke tanah air dan berjumpa dengan keluarga. Setelah kembali ke tanah air, saya juga tidak bisa berlama-lama bersama dengan keluarga karena saya harus mengajar di pesantren.  Melihat jalan hidup kami, maka sangat jarang kami dapat berkumpul bersama-sama.
 Namun momen itu akhirnya datang juga, meskipun dengan waktu beberapa hari saja. Setelah beberapa tahun, akhirnya kami dapat berkumpul dalam sebuah  keluarga besar. Kakak-kakak saya dengan pasangan dan anak-anak mereka, beserta saya dan isteri saya. Tentunya ayah dan ibu juga ada. Kebetulan momen itu terjadi pada hari pernikahan saya. Saya merasakan indahnya kebersamaan yang sulit kami dapatkan. Cerita-cerita indah tentang masa lalu mengalir dan menggali memori terdalam kami. Dan entah kapan lagi kami dapat berkumpul seperti ini.
Sangat beruntung orang yang dapat berkumpul dengan orang-orang yang ia cintai dan menghargai kebersamaan itu. Namun sayangnya, masih banyak orang yang dianugerahi kebersamaan dengan orang-orang yang ia sayangi namun tidak menyadari dan menghargai anugerah itu. Kebersamaan itu seakan tak bermakna, dan penyesalan akan datang ketika orang-orang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita.
Saya bersyukur meskipun kami jarang bersama, namun kami selalu menghargai waktu kebersamaan kami, dan saya berharap semoga ini akan selalu menjadi pedoman hidup kami.

Gorontalo, 13 Mei 2015

Tulisan ini untukmu Mbak Dewi....


Selamat Ulang Tahun Mbak....

Monday, April 22, 2013

Bahaya Miss World, Star Academy dan X-Factor

SinaiOnline-Jika di Indonesia marak program pencarian bakat, mulai yang membebek AS dengan Indonesian Idol, Big-Brother, X-Faktor, hingga yang lokal: IMB (Indonesia Mencari Bakat), ternyata negara-negara Arab pun tengah dihebohkan oleh program acara Star Academy yang mulai mewabah dari Libanon hingga Saudi Arabia, negeri yang di dalamnya terdapat kiblat dan tanah suci umat Islam.

Tak jauh beda dengan Miss World, program Star Academy pun menjadi magnet bagi kerumunan kaum hawa dan tampilnya wanita-wanita suci yang mengumbar aurat hingga kelihatan aurat-aurat utamanya. Tentu reality show ini yang membuat stasiun TV Lebanese Broadcasting Corporation (LBC) laris manis. Hingga Imam Masjid Al Haram, Syaikh Sudais menentang keras acara t Star Academy tersebu dengan bahasa: ‘weapon of mass destruction’ yang jauh lebih berbahaya daripada bom nuklir.

Kegundahan Syaikh Abdurrahman As Sudais sangat wajar. Karena setelah ditelusuri, Star Academy dan hampir semua program pencarian bakat didirikan dan didanai oleh Yahudi. Dalam acara Dialog Today di TV Israel, pendiri dan pendonor program Star Academy, Malhom Ukhonuc, buka-bukaan seperti terangkum dalam dialog berikut:

-Bagaimana perasaan Anda, setelah sekian lama berjibaku, akhirnya program Star Academy diterima dan diadakan di negara-negara Islam?

Amazing … unpredictible. Namun tetap saja, perlu waktu panjang agar target-target kita (Yahudi) bisa tercapai!

-Apa maksudnya masih perlu waktu lama?

Ya .. setelah sekian lama kita mengadakan riset and depelovemnt. Mulai dari mengupayakan agar program-program kita diterima di Eropa, kemudian di negara-negara Arab. Namun tetap, sebelum cita-cita besar kita Israel Raya belum terwujud, maka perjuangan kita belum sukses.

-Apa alasannya Anda begitu yakin, cita-cita Israel Raya bisa terwujud dengan ide-ide Reality Show?

Mudah saja. Kita semua paham, bahwa kaum Muslimin dalam kondisi sangat jauh dari panduan agamanya. Namun di sisi lain, kita cermati, kaum muda Muslim malah makin konsisten-komitmen-dan konsekuen dengan keIslamannya. Bila hal ini dibiarkan membesar, sangat membahayakan masa depan negara kita (Israel).

-Mengapa dengan Reality Show seperti Star Academy dan lainnya dapat Anda gunakan untuk merusak umat Islam?

Sebab, kita semua menginginkan, umat Islam itu tetap jauh dari agamanya.

-Lalu apa strategi hari ini dan selanjutnya setelah program reality show?

Kita akan perangi wanita-wanita Muslimah.

-Mengapa wanita Muslimah bukan pemuda Muslimnya?

Karena kita paham, jika Muslimah mengalami pergeseran nilai, maka satu generasi umat Islam akan bergeser dan absurd.

-Dengan cara apa Anda memerangi wanita Muslimah?


Hari ini kita akan memerangi wanita-wanita Muslimah dan merusaknya, mulai dari merusak akal, pemikiran, hingga fisik. Ketika kita berhasil merusak kaum Muslimah, kita telah merusak umat Islam dengan daya rusak yang lebih menghancurkan daripada serangan tank, pesawat tempur, atau nuklir sekalipun. Kini kita makin dipermudah dengan adanya Smartphone, BB. Kaum wanita disibukkan dengan mainan baru itu. Tentu program-program lain, masih dirancang dan dirahasiakan!

-Apakah Anda turut serta di program Star Academy yang diadakan di Libanon juga negara-negara Arab seperti Saudi Arabia?


Tentu saja. Kita menjadi donatur utama Star Academy di negara-negara Arab. Gelontoran dana kami kirimkan secara terus menerus. Kita memanfaatkan kondisi umat Islam yang tengah tertidur. Sebab jika umat Islam terbangun, umat Islam akan mampu mengambil kembali apa yang telah kita curi. Dan Islam akan kembali jaya, seperti beberapa abad lampau.

Dari keterusterangan tokoh Yahudi di atas, alangkah indahnya jika umat Islam -mulai dari Indonesia- menentang semua program apapun yang berujung pada penghancuran sumber daya termahal, yaitu: kaum Muslimah. Kepada para gubernur, bupati, dan para menteri yang masih memiliki keterpanggilan menjaga Islam dan umat Islam dari dekadensi moral dan angkara murka, ini adalah lapang jihad yang bisa dilakukan dengan kekuasaan yang dimiliki.

Buatlah program-program pembinaan Muslimah yang simultan. Arahkan mereka untuk menjadi entrepreuner sejati. Kepada kita kaum lelaki, baik sebagai ayah-kakak-adik-suami, jadikan Muslimah harta karun yang harus dirawat dan dimuliakan. Semangatlah mencari rezeki. Jangan izinkan mereka bekerja yang tidak sesuai fitrahnya. Sejahterakan kaum hawa. Agar generasi unggul terlahir dari rahim suci mereka. Wallahu A’lam. (nb/sinai)
____________________________________
Nandang Burhanudin, Lc

 Sumber : www.sinaimesir.net

Sunday, April 21, 2013

Koruptor Masuk Surga

Korupsi telah menjadi budaya di Indonesia ini. Mulai dari pejabat tingkat desa hingga pejabat elite di negara ini. tak mengenal tua dan muda. Tak terkecuali dengan Pak Sugi yang menjadi anggota legislatif. Jangan tanyakan pada Pak Sugi berapa jumlah uang yang ia korupsi. Tentu saja ia tidak akan katakan itu pada anda. Siapa sih yang mau mengungkapkan boroknya sendiri. Pak Sugi tentu juga sudah lupa berapa jumlah uang yang sudah ia ambil dari kas negara. yang ia ingat, setiap ada tender proyek ia pasti akan mendapatkan komisi untuk memuluskan langkah salah satu pihak. 
namun ia bersyukur bahwa ia belum ada kasus hukum yang mendera dirinya terkait dengan korupsi yang ia lakukan. ia lebih beruntung dibandingkan dengan kolega - koleganya yang sudah dijerat hukum bahkan divonis hukuman penjara. untuk itu ia harus bersyukur. 
Untuk mengurangi rasa bersalah, ia sering memberikan sumbangan ke mesjid dekat rumahnya.  sejumlah uang selalu ia berikan kepada pengurus mesjid. tentu saja ia menyerahkan uang itu di hadapan jama'ah mesjid. hitung - hitung sekalian kampanye dan mengangkat image-nya sebagai seorang dermawan. sudah pasti uang sumbangan itu tidak sebanding jumlahnya dengan uang ia dapat dari korupsi yang mencapai milyaran rupiah. hebatnya lagi, ia berhasil mengelabui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sehingga kedudukannya aman - aman saja. Keadaan itu terus berlanjut hingga ajal datang menjempunya.